Mas Cilok & Mbak Jus - Profesi yang diremehkan?
![]() |
| Cilok Upin Ipin Bandung - gak nemu foto yang Jogja |
Waktu itu saya beranikan diri buat nanya “Mas e, sehari dapat berapa sih jualan gini?”.
Untungnya si Mas Cilok tipe yang open, blak-blakkan dia menjawab “Ya paling sedikit 300rb sehari”, sambil masukin cilok ke kantong plastik.
Saya menimpali, “Wah lumayan yak, 9 juta sebulan, bersihnya berapa, mas?”.
Si Mas Cilok menjawab sambil menaburi bubuk micin pedas. “Bersihnya separo lebih, mbak”. Saya pikir dalam hati, lah lumayan 4-5 jutaan.
Eh si Mas Cilok lanjut “Tapi saya sih punya 3 gerobak lain, yang tak taroh depan SD sama SMP, sama di Seturan. Dari tiap gerobak saya dapat 1-1.5 juta. Jadi ya ada lah sebulan 10 juta. Eh pakai kecap ndak?”
Saya mengangguk “O keren ya, eh gausah kecap mas”. Si abang memberikan cilok 5 ribu saya.
Skip ke tahun 2017, dimana saya mulai jadi dosen di kampus yang sama. Gaji pokok saat mulai 2.8 juta, sebenarnya agak kecil kalau dibanding usahanya yang mesti lulus S2 dulu baru bisa jadi dosen, tapi saya suka kerjaan ini. Ditambah uang mengajar, THR 2x gaji pokok, dana peneliitian, hibah publikasi, jatohnya sekitar 4-5 juta sebulan. Lemayan lah.
Saya beli lagi tuh Cilok Upin Ipin. Yang jual udah beda orang. Dan semakin banyak aja liat armada gerobaknya berkeliaran di daerah situ. Dan meraka udah sewa rumah untuk pabrik mini. Wah mungkin si Mas Cilok udah upgrade iPhone bahkan mungkin udah umroh berkali-kali ini.
Di lain hari, masih tahun 2017 juga, saya beli jus di seberang kampus. Si jus ini juga udah lama banget ada disini. Harganya murah meriah, 7-10 ribuan. Buahnya seger. Karena saya pesen banyak buat sekantor, saya lama duduk nungguin Mbak Jus bikin jus. Tiba-tiba blendernya macet. Si Mbak Jus ngomel kecil “Waduh lagi-lagi, blender jaman sekarang cepat amat rusak e”.
Saya menimpali “Sering dipakai sih, Mbak. Hehehe. Sehari bikin berapa gelas e?”
Sambil ketok-ketok blender si Mbak menjawab “Ya kalau panas gini, 200-300 gelas, kalau hujan cuma 100an”. Si blender tewas. Si Mbak mengeluarkan blender baru.
"Untung per gelas brapa e mbak?", saya iseng bertanya.
"Kira-kira separo"
Otak saya muter, si Mbak Jus jualan hampir tiap hari. Kalau misalnya aja 200 gelas sehari, sebulan terjual 6000 gelas, segelas untung minimal 3rb. Sebulan 18.000.000. 18 Juta. Gile si Mbak Jus flex banget.
Saya balik ke kantor sambil nyedot jus jambu biji. Bertanya-tanya ngapain gue susah-susah sekolah tinggi-tinggi.
Tapi ya kalau dipikir lagi ada plus minusnya. Saya gatau seberat apa kerjaan mereka. Mungkin mereka subuh udah mesti ke pasar cari suplai bahan. Pagi mulai siap-siap biar siang bisa jualan, malam mungkin baru balik ke rumah.Weekend mereka nggak libur. Mungkin mereka harus menghadapi pungli juga. Saya kerja di ruangan ber-AC sementara mereka di pinggir jalan. Apakah kerja keras mereka setimpal dengan penghasilan meraka? Apa mereka bahagia dengan pekerjaan mereka? Saya penasaran.
Realitanya, mayoritas orang mendengar profesi dosen, tanggapannya "waw". Sementara kalau mendengar profesi pedagang kaki lima, tanggapannya "oh". Padahal saya yang kerjaannya sebagai dosen ini malah kagum sama pedagang kaki lima. Soalnya di Amrik sini saya dapat kesempatan jadi kasir nemenin suami jualan nasi goreng di kaki lima, dan ternyata asyik plus seru. Selain itu, saya sangat menghormati cilok sebagai suplai micin harian nan nikmat.
Tapi ya sebenarnya, sungguh saya penasaran, bagaimana sih detailnya keuangan mereka. Berapa modal, berapa pendapatan, dan bagaimana gaya hidup mereka. Si Mas Cilok agak high class kalau diliat dari pilihan hp-nya. Tapi apa mungkin sekarang sudah berubah, makin tinggi atau makin sederhana seiring usahanya yang berkembang? Sekilas si Mbak Jus terlihat sederhana, tapi bisa jadi skincarenya La Mer. Atau malah skincarenya Viva? Apa mereka bisa menikmati duitnya? Atau malah harus habis-habisan membantu keluarga? Banyak pertanyaan yang ingin saya utarakan, sayangnya tidak sempat waktu itu.
Oleh karena itu, saya berharap suatu hari bisa mengobrol dengan orang-orang seperti mereka, melihat perspektif finansial dan pekerjaan dari mata mereka. Inilah alasan saya memulai blog ini, agak saya punya kesempatan untuk berbicara blak-blakan dengan berbagai profesi, dari tukang sedot wc sampai sampai pemilik toko bangunan, dari cleaning service sampai manager mall, dari pemilik salon sampai tukang cukur bawah pohon asem. Berbagai bidang, berbagai tempat, berbagai nominal penghasilan, dan berbagai gaya hidup. Dan semoga hasilnya kita bisa belajar bersama.

Comments
Post a Comment