Berapa penghasilan online shop? Solopreneur Kelom dari Tasikmalaya, kerja 2 jam, penghasilan 8 juta



Suatu malam di grup facebook anu (CS), ada seseorang yang posting tentang finansial dan disambut beratus-ratus komen. Saya ikutan komen deh, dan dibalas sama yang ngepost. Di komen, kita iseng-iseng bertukar pikiran mengenai financial independence. Saya kepoin fbnya, karena namanya cuma "Kelom Cempanik", bukan nama orang. Tapi jualannya kayaknya asik-asik, banyak yang bikin ngiler.

Ngiler kan? Palagi liatnya malem-malem. Huhuhu~

Saya pun beranikan diri untuk add fbnya dan bertanya, mau nggak kalau Mbaknya diwawancara untuk blog ini. Gayung bersambut, dan akhirnya selang beberapa hari kami melakukan zoom call. Namanya Enur Solihah, panggilan Mbak Nunu. Asal Tasikmalaya. Jualan utamanya adalah kelom, sendal kayu cantik dengan motif unik. 

Tujuh tahun lalu, Mbak Nunu bekerja sebagai guru sekolah alam dan penyiar radio, dengan gaji yang lumayan diatas UMR, 2 jutaan. Suatu kali, pas lagi liburan di Jogja, temennya yang punya online shop minta bantuan untuk jadi model baju. Yaudah, iseng aja Mbak Nunu foto-foto dengan baju tersebut. Pas selesai liburan dan dia balik ke Tasik, bajunya udah kejual. Yang ada dipikirannya "Enak banget yak gitu aja dapat duit". Muncullah ide untuk buka online shop juga.

Mbak Nunu melirik peluang di Tasik. Ada orangtua muridnya yang punya workshop kelom. Dia pun izin untuk foto-foto dan diposting. Eh, ternyata sambutannya positif dan lumayan terjual. Seiiring waktu, Mbak Nunu pun menemukan segmen pasarnya sendiri. Awalnya hanya dari observasi kliennya, yang terlihat pada senang dengan wastra nusantara seperti batik, tenun dan songket. Kelomnya pun akhirnya disesuaikan dan lahirlah Kelom Campernik yang mengkombinasikan dasar sendal kayu dengan kain-kain tradisional. 

Kelom Etnik, sendal kayu cantik khas Tasik

Saat itu, kelom ini hanya sebagai proyek sampingan dan iseng aja. Tapi semua berubah saat negara api menyerang. Bukan ding. Tiga tahun lalu, Ibunya Mbak Nunu yang difabel, penyakit rematiknya makin parah sehingga tidak bisa bekerja lagi. Mbak Nunu sebagai anak tunggal harus tinggal dirumah agar bisa menjaga ibunya yang butuh perawatan 24 jam. Mbak Nunu pun melepas pekerjaannya sebagai guru dan penyiar radio, dan memfokuskan usahanya pada Kelom Campernik. "Kalau nggak serius jalanin kelom ini, aku dan keluargaku ya gabisa makan," katanya. Mbak Nunu pun menggenjot usaha kelomnya. Sayangnya ada lagi kemalangan yang datang, setahun lalu ayahnya juga meninggal dunia dan kini tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga seutuhnya jatuh ke pundak Mbak Nunu.

Untungnya dengan keseriusan dan ketekunannya, Kelom Campernik makin berkembang. Sepasang dijual dengan harga relatif premium dibandingkan kelom lain dari Tasikmalaya, sekitar 200-365 ribu rupiah per pasang. Pelanggannya dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan paduan suara dari gereja di Papua di ujung timur sana juga pesan dari Kelom Campernik. Sebagai sampingan, Mbak Nunu juga menambahkan beberapa kerajinan lain seperti keranjang dan piring rotan dan bambu di halaman jualannya. Saat ini, keuntungan sudah stabil dan Mbak Nunu sudah bisa menggaji diri sendiri rata-rata 8 juta sebulan. Dan kini, untuk menjalankan bisnis ini, Mbak Nunu hanya perlu waktu sekitar 2 jam perhari. Dari posting di IG dan facebook, mencatat pesanan, kontak dengan supplier, dan packing, hanya menyita waktunya 2 jam perhari. Sisanya dia bisa fokuskan untuk mengurus ibunya.

Dengan munculnya pandemi, penjualan kelom sedikit menurun. Mbak Nunu pun memutar otak untuk cari jualan lain. Dia teringat saudara angkatnya yang berjualan bakso, dan iseng mencoba posting bakso tersebut di facebook. Sebentar aja udah bermunculan 200an komen, dan muncul order senilai jutaan rupiah. Bakso pun dikirimkan dan mulai diseriusi juga, bahkan ada yang sampai terkirim ke Singapura oleh reseller. Nggak jadi menurun, setelah berjualan bakso, penghasilan bersih Mbak Nunu malah naik jadi 13 juta. Tapi saat ini porsi postingan baksonya sudah dikurangi, karena kelom mulai naik lagi, dan Mbak Nunu lebih seneng berjualan kelom.

Mbak Nunu menikmati usaha ini karena kebebasannya dalam mengatur usahanya, sebagai solopreneur, dia menjalankan bisnis ini sendiri. Tidak ada pegawai, tapi banyak mitra yang sama-sama diuntungkan. Dia masih bermitra dengan pengrajin dari workshop punya orangtua muridnya, dan setelah tujuh tahun berjalan, para pengrajin ini sudah seperti keluarga sendiri. Kalau banyak orderan, Mbak Nunu juga membagi pekerjaan packing ke tetangga-tetangganya. Dulu pada jaman ikut seminar bisnis, sempat kepikiran untuk mengembangkan Kelom Campernik. Tetapi setelah merenung, Mbak Nunu lebih menyukai menjalaninya sendiri, karena sesuai dengan tanggung jawabnya untuk mengurus ibunya dan juga dengan jiwa bebasnya sebagai solopreneur.

Tantangan terbesarnya dalam bisnis online ini malah bukan customer yang aneh dan absurd, tapi kurangnya jumlah pengrajin. Karena efek jaman dimana pemakai kelom semakin berkurang, banyak pengrajin kayu yang alih profesi jadi tukang bangunan, bahkan sampai migrasi ke Kalimantan untuk jadi penambang. Karena pengrajin langka, jika dulu kelom bisa selesai dalam waktu 2-3 hari, sekarang kadang bisa perlu waktu 1-2 minggu untuk menyelesaikan suatu pesanan. Untungnya customer mengerti dan bisa maklum kalau kadang perlu waktu lama untuk pengerajaan pesanan.

Sampul buku catatan budgetnya Mbak Nunu

Tiga tahun lalu, pada waktu yang bersamaan dengan menseriusi Kelom Campernik, Mbak Nunu juga mulai belajar menata keuangan pribadinya. Ya karena tuntutan hidup, kalau nggak diatur, keluarganya bisa-bisa kekurangan. Dua bulan pertama, semua dicatat, bahkan ke warung beli barang 2000 aja dicatet juga. Setelah itu, Mbak Nunu mulai membagi-bagi pengeluarannya ke dalam pos-pos, misalnya pos makanan, pos hygiene dan sebagainya. Lalu beralih lagi ke sistem amplop, dengan tujuan pada tiap amplop. Setelah beberapa bulan, disiplin dirinya dalam mengatur duit sudah terbentuk, sehingga dia bisa lebih santai. Sekarang Mbak Nunu menerapkan zero based budgeting. Setiap awal bulan, keuntungan harian langsung dimasukkan ke dalam pos-pos proritas. Pos-pos yang kalau nggak ada, gak bisa hidup, yaitu galon, sampah, listrik, kontrakan, popok dewasa dan gas. Untuk makan dan keperluan sehari-hari, sambil jalan aja. Total budget dasar perbulan yang digunakan mbak Nunu adalah 4 juta rupiah. Bila pos-pos ini sudah terpenuhi, sisanya baru untuk tabungan dan senang-senang. Sisanya ini fluktuatif, kadang bisa 5 juta, kadang pas lesu ya pernah hanya 1.5 juta.

Item Jumlah
Galon  Rp             80,000
Sampah  Rp             50,000
Listrik  Rp             52,500
Internet  Rp          280,000
Kontrakan  Rp          450,000
Popok Dewasa  Rp          500,000
Gas  Rp          165,000
Makan (kurang lebih)  Rp       2,422,500
TOTAL  Rp      4,000,000


Walapun jualannya kelom, Mbak Nunu sendiri malah nggak pernah memakai jualnnya. Soalnya dibalik jualannya yang cantik dan feminin, Mbak Nunu ternyata gabisa makai high heels. Dari budgetnya itu, buat seneng-seneng dia menyisihkan anggaran untuk jalan-jalan, terutama naik gunung dan backpacker bareng temen-temennya, dan nggak hanya di sekitaran Jawa aja, Mbak Nunu juga sudah backpackeran dan mendaki sampai ke Sumatra dan Sulawesi.

Waktu di Kerinci, ketemy grup wanita-wanita pendaki yang jadi grup naik gunung sampe sekarang

Saat ini net worth Mbak Nunu sudah terkumpul 120 juta, jumlah yang masih dirasanya kecil soalnya belum cukup buat beli rumah di Tasikmalaya, yang berkisar di angka 170-200 juta. Tetapi Mbak Nunu santai aja sih, mengontrak saat ini juga enak dan hemat, dan yang penting tidak menjadi beban orang lain. Malah ada kerabat jauhnya yang punya rumah besar, mau minjem duit cicilan rumah dari dia yang masih ngontrak. Wkwkwk. Mbak Nunu juga menerapkan prinsip minimalisme, contohnya dia memilih nggak punya kendaraan pribadi karena kebutuhannya buat keluar rumah gak banyak. Toh barang kiriman juga diambil kurir, kemana-mana bisa pake ojek online, daripada ribet mikirin perawatan kendaraan dan antri bensin.

Yang paling saya suka adalah saat saya bertanya definisi financial independence buat dia apa? Jawabnya, "Ketika aku butuh duitnya ada, bisa tidur nyenyak gak mikirin utang, bisa giving, bisa saving, bisa having fun. Hidup berkualitas dengan value yang aku tentukan sendiri". Yang penting jangan membandingkan diri dengan orang. Kalau ngeliat orang lain umur segini udah beli ini itu, biasa dan santai aja, karena prioritas kita gak sama dengan orang.

Untuk kedepannya, Mbak Nunu belum kepikiran mau pensiun, karena dia sangat, sangat menikmati pekerjaannya ini. Jam kerjanya yang singkat memungkinkan dia membagi waktu untuk ibunya, dan dia juga masih bisa punya waktu santai dan me time setiap harinya buat nonton Rurouni Kenshin dan Drama Korea. Untuk kedepannya, dia hanya pengen lebih punya banyak kebabasan untuk travel dan jalan-jalan, terutama tahun depan bisa balas dendam jalan-jalan karena setahun ini ngetem di rumah mulu.

Terima kasih sharingnya Mbak Nunu. Kalau penasaran, ini adalah link FBnya, dan ini adalah instagramnya atau di WA 0857-9344-9777 buat pesen kelom dan bakso.


Comments

Popular posts from this blog

Buka-bukaan Gaji Polisi di Mabes POLRI

Buka-bukaan Beasiswa S2 Erasmus Eropa - Total 720 juta, Sisa 30 juta

Berapa gaji dosen swasta? Dari 2 juta hingga 5 jutaan