Ngobrolin soal duit? Dasar materialistis!
![]() |
| Cewek matre..kelaut aje. Ngapain ke laut, mending ke mall |
“Males reuni, soalnya malah pada ngomongin penghasilan, gak asik”
“Sombong ih, pamer harta”
“Wkwkwkw, pokoknya cukup lah, gak enak nyebut angka”
Yep, obrolan topik duit cenderung dianggap tabu dimana-mana. Gak cuma di lingkungan pergaulan, lingkungan kerja, bahkan dalam keluarga aja ada suami-istri yang gak saling tau penghasilan berapa. Padahal dalam sehari-hari, pemahaman finansial itu penting. Biar kita gak terjebak pinjol. Biar kita gak terjebak investasi bodong. Biar kita gak putus tali silahturahmi sama teman gara-gara utang. Biar gak kembang kempis kalau ada pandemi. Biar gak sampai bercerai karena masalah keuangan.
Karena stigmatisasi yang buruk, obrolan duit itu jadi langka. Padahal saya dan suami suka ngobrolin soal duit, dan seneng banget kalau ketemu teman yang mau blak-blakan soal duit. Misalnya saya senang kalau ketemu orang yang blak-blakan ngomongin omzet kayak Mas Cilok dan Mbak Jus di cerita sebelumnya. Tapi ya jarang nemunya, atau suasananya gak pernah tepat untuk ngomongin duit. Jadinya ya ngomong berdua aja. Huhu..
Kami sendiri baru benar-benar belajar mengelola keuangan keluarga di umur 27 setelah menikah. Agak telat sebenernya, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Suami saya gak dididik masalah finansial oleh orangtuanya. Ortunya tipikal di Indonesia, jarang ngomongin masalah duit dengan anak, pokoknya asal ada ngasih, cukup gak cukup. Saya kebalikannya, bapak saya adalah sarjana matematika yang kerjanya membangun koperasi, jadi setelah saya masuk SMP, saya dicekokin dengan hitungan investasi dan dana pensiun. Walau baru diterapkan dengan bener baru-baru ini sih, wkwkwk.
Wajar sebenernya kalau banyak orang di Indonesia yang tidak paham, karena sumber belajarnya gak ada. Pas SMA, kita diajarin trigonometri dan aljabar, tapi ya gak diajarin ngitung persiapan dana pensiun, atau ngitung bunga cicilan panci. Sumber asyik untuk belajar finansial juga terbatas. Yang ada misalnya video Raditya Dika kadang bahas keuangan, ya hanya saja susah buat saya untuk relate sama mereka yang penghasilannya sudah di level milyaran sebulan. Saya sendiri, dua tahun lalu gaji saya masih di angka 3 jutaan, abis itu jadi 20 jutaan karena jadi sejenis TKI di Amrik. Diatas UMR ya tapi gak kaya.
Di youtube ada channel “Ngomongin Uang”, tapi isinya lebih banyak membahas saham dan investasi. Pas saya google “Finansial Indonesia” atau kata kunci sejenisnya, yang keluar lagi-lagi adalah website-website berita atau penawaran investasi. Ada juga podcast “Ngomongin Duit”, lumayan bagus, tapi belum banyak cerita disana.
Padahal yang saya pengen tau adalah gimana misalnya mbak-mbak kasir Indoapril atau Betamart mengatur gajinya sebulan biar cukup buat beli pulsa dan beli makanan kucing. Saya kepo berapa sih penghasilan kang batagor. Cukup gak misalnya kalau kang batagor nabung buat naik haji biar bisa nyamain tukang bubur? Yang ingin saya baca adalah bagaimana pengelolaan keuangan sehari-hari, yang terbuka dan jelas, untuk kalangan orang-orang biasa yang penghasilannya ya biasa aja.
Di Amrik, saya menemukan pembicaraan blak-blakan soal duit dari berbagai kalangan di forum FIRE Reddit (Financial Independence, Retire Early), dari supir truk sampe pegawai Google, ada semua rincian pendapatan pengeluarannya disana. Tapi sayangnya Reddit masih diblokir di Indonesia, dan isinya bahasa Inggris, jadi sulit untuk mayoritas rakyat Indonesia untuk mengaksesnya. Saya dan suami juga hobbynya nonton channel youtube keuangan sehari-hari macem CNBC Millennial Money, Graham Stephan, Dave Ramsay, tapi ya lagi-lagi isinya bahasa inggris, dan orientasinya adalah sistem ekonomi di US. Minim sekali sumber yang berbahasa Indonesia.
Seorang yang bijak pernah berkata “Kalau gak bisa nemu tulisan yang kamu mau, ya kamu yang bikin tulisan itu”. Karena itulah, saya memulai blog ini, dengan membagikan pengalaman kami yang terbatas ini. Semoga kedepannya saya bisa menemukan orang-orang yang bersedia diwawancarai dengan blak-blakan soal duitnya. Dan saya tidak mau hanya mewawancarai orang yang sudah sukses, tapi saya juga pengen menemukan orang yang sedang jatuh, sedang berjuang, sedang ditengah-tengah, dalam berbagai posisi dan situasi, karena itulah realita kehidupan.
![]() |
| Baiklah, saya bersiap menanggung resiko kekepoan saya |


Comments
Post a Comment