Buka-bukaan Gaji Polisi di Mabes POLRI

 

Narasumber ini adalah adik sepupu saya sendiri, Yovinus Verry. Dia termasuk spesimen langka mungkin, yang lolos tes polisi cuma keluar duit 300 ribu. Mungkin rejeki anak yatim. Maminya Verry adalah adik mama saya. Maminya sekarang adalah single mom karena bapak Verry yang dulunya adalah guru, meninggal saat Verry masih SMP. Karena itu, sejak SMA Verry udah bekerja di minimarket.

Dia melanjutkan kuliah Manajemen Keuangan di Universitas Panca Bhakti Pontianak, sambil bekerja sebagai resepsionis hotel untuk membiayai kuliahnya sendiri. Untungnya bosnya cukup pengertian, dan dia diizinkan untuk mengambil shift malam terus-menerus. Jadi pagi sampai sore dia kuliah, sore sampai subuh jaga hotel. Saat itu gajinya adalah Rp.1.500.000, tapi dia kreatif dan mulai menjual air botolan sebagai sampingan. Dari jualan air botol ini, dia bisa dapat hingga Rp. 800.000.

Setelah dia jadi sarjana, dia ikut test polisi. Pendaftarannya gratis, tetapi dia harus mengeluarkan uang untuk test urin (Rp. 210.000), SKCK (Rp. 30.000), dan fotokopi serta materai. Habis totalnya Rp. 300.000. Dari 4000 peserta dari seluruh Indonesia, Verry lolos ke Jakarta Bersama 200an orang lainnya. Di Jakarta, mereka seleksi lagi dan bersama 75 calon polisi lainnya, dia kembali lolos.

Tetapi belum bisa langsung bekerja, karena mereka harus melewati latihan di Akademi Polisi Semaran selama 7 bulan. Selama itu, mereka harus membawa tas isi pasir (20kg) kemana-mana. Plus memakai sepatu PDL (5kg) serta menenteng senjata (10kg). Total-total 35 kg, dengan berat badan 70kg, dia jalan kemana-mana bawa setengah berat badan sendiri. Berat badan juga mesti dijaga agar tidak overweight, karena bisa dapat pengurangan nilai. Sebelum makan siang mereka juga mesti olahraga, seringnya push up di aspal panas. Sambil tetap memakai tas serta kelengkapan yang 35kg itu. Perlengkapan hanya boleh dilepas kalua mereka sedang di kelas aja. Selama training ini mereka belum digaji, hanya diberi uang saku yang cuma Rp. 115.000.

Verry waktu latihan menembak di akademi


Verry lulus akademi dan resmi menjadi polisi, dan sudah bertugas selama 2 tahun. Karena pas masuk sudah sarjana, dia langsung menjadi perwira dengan pangkat IPDA (Inspektur Dua). Dia langsung ditempatkan di Mabes POLRI pada bagian keuangan. Tugasnya adalah menyalurkan dana bagi anggota-anggota lain yang bertugas lapangan, serta membuat laporan keuangan. Tapi beberapa kali sebulan dia ikut patroli, dan tertuma pada saat demo juga mesti turun ke lapangan. Sejauh ini sih dia belum pernah kena lempat batu saat demo.

Upacara kelulusan


Gaji pokok serta berbagai tunjangan lainnya adalah Rp. 4.900.000, yang turun setiap tanggal 1. Selain itu, dia juga mendapatkan tunjangan kinerja yang diberikan pada tanggal 14-20an, sebanyak Rp. 3.500.000 kalau dia full masuk. Jadi total perbulannya adalah Rp. 8.400.000.

Yang saya salut adalah, betapa hematnya Verry ini. Dia mengirimkan hampir sekitar 80% gajinya ke Pontianak. Rp. 500.000 dia berikan untuk ibunya, kadang Rp. 80.000 diminta adiknya. Dan dia selalu menabung Rp. 6.000.000 per bulan. Sisanya hanya Rp. 1.800.000 untuk dia bertahan hidup di Jakarta.

Strategi hematnya adalah selalu makan di kantor, dan hanya pada saat libur aja dia mesti beli makanan. Untuk sabtu-minggu, dia cuma beli telur 4 biji dan tomat sekilo untuk makan, atau Rp. 28.000 per minggu. Untuk baju, dia dapat gratisan dari kantor. Karena dia bekerja di bagian penyalur dana lapangan, kalua ada anggota yang bertugas ke seluruh negeri ataupun keluar negeri, dia kecipratan oleh-oleh kaos. Jadi gak perlu beli baju pribadi. Pengeluaran baju hanya untuk membuat seragam yang satu setnya Rp. 700.000.

Motor dia juga nggak perlu beli karena dikasi motor Honda Verza ala Bhabinkamtibmas, dan dia hanya keluar uang bensin sekitar Rp. 80.000 per bulan. Selain itu dia keluar uang untuk kuota dan pulsa sebanyak Rp. 160.000 sebulan. Hanya beberapa bulan sekali dia keluar makan dengan teman, dan merogoh Rp. 150.000. Untuk tinggal, karena rumah dinas di Jakarta penuh, dia mencari kost sendiri yang harganya Rp. 700.000. Cukup dekat juga, hanya berjarak 15 menit dari Mabes Polri.

Lumayan dikasi motor dinas gratis..


Karena Verry nabungnya lumayan barbar, sekarang dia juga berhasil mengumpulkan Rp. 70.000.000, sebagian di CU (Credit Union) dan sebagian di bank. Uang ini kalau sudah terkumpul, rencananya akan digunakan untuk renovasi rumahnya di Pontianak. Nikah gimana? Katanya sih belum mikirin, soalnya nikah perwira polisi abisnya ratusan juga, jadi mau sabar dulu. Untuk kedepannya, Verry pengen coba melanjutkan sekolah S2 dengan beasiwa kerjasama POLRI dan LPDP.




Comments

  1. Baru kali ini tahu gaji polisi. Menarik kontennya. Salut bisa hidup di Jakarta dengan biaya 1.8jt

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Buka-bukaan Beasiswa S2 Erasmus Eropa - Total 720 juta, Sisa 30 juta

Berapa gaji dosen swasta? Dari 2 juta hingga 5 jutaan